Pestisida Picu Parkinson

September 27, 2009

Berhati-hatilah dalam menggunakan bahan-bahan yang mengandung pestisida karena penumpukkan pestisida di tubuh bisa menyebabkan timbulnya penyakit parkinson. Karena itu, orang-orang yang pekerjaannya mengharuskan ia banyak melakukan kontak dengan pestisida perlu waspada.

Dalam penelitian yang dilakukan tim dari Parkinson’s Institute di California, AS terhadap 519 pasien parkinson dan 511 orang sehat, para peneliti mewawancarai mereka tentang riwayat pekerjaan dan paparan racun yang dialami, termasuk pestisida dan cairan pelarut.

Memang mereka yang bekerja di bidang agrikultur, pendidikan, tenaga kesehatan atau tukang las tidak terkait langsung dengan parkinson. Tetapi, para peneliti menemukan 8,5 persen pasien parkinson adalah orang yang sering terpapar pestisida, bandingkan dengan 5,3 persen yang tidak terkena parkinson.

“Hasil riset ini memberikan bukti hubungan kasual antara paparan pestisida dan parkinson. Yang perlu diketahui adalah kata pestisida punya cakupan yang luas, bukan hanya pupuk tapi juga bahan-bahan kimia lain,” kata Dr.Caroline M. Tanner, peneliti.

Dalam penelitian ini para ahli secara spesifik mengidentifikasi 8 jenis pestisida yang punya kadar racun paling tinggi berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Tiga komponen, baik organik (dichlorophenoxyacetic acid), herbisida (paraquat), dan insektisida (permethrin), ternyata meningkatkan risiko penyakit parkinson. Menurut pemeriksaan laboratorium, tiga komponen tersebut berpengaruh pada dopamin.

Radikal bebas sisa metabolisme tubuh maupun zat bersifat racun terhadap saraf seperti zat besi, herbisida, pestisida, bisa menyebabkan degenerasi neuron (sel pengantar impuls dalam sistem saraf) dan kerusakan sel otak di substansia nigra. Akibatnya kadar dopamin di otak menurun.

Rendahnya kadar dopamin, bisa menyebabkan gangguan pada bagian otak yang mengatur gerakan yang bisa diatur (volunteer) dan gerakan yang tak bisa diatur (involunteer).

Gejala utama penyakit Parkinson, adalah tremor (gemetaran), rigiditas (kekakuan terutama pada gerakan otot leher, lengan, tungkai yang terlihat dengan gerakan terpatah-patah), akinesia/bradikinesia (gerakan lamban, kedipan mata berkurang, otot muka kurang bergerak, suara mengecil dan monoton, refleks menelan lambat, dan air liur menetes keluar) dan postural reflex terganggu yang menyebabkan penderita sering jatuh.

Sumber : KompasOnline

Leave a Comment

You can use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Previous post:

Next post:

</