Terlalu banyak minum minuman ringan dengan pemanis buatan akan mengakibatkan kerusakan pada ginjal.
Sebuah penelitian yang melibatkan tiga ribu perempuan yang ambil bagian telah menunjukkan efeknya. Dalam penelitian mengenai gaya hidup dan investigasi kesehatan di Amerika ini membandingkan penggunaan pemanis asli dan pemanis buatan.
Hasilnya menunjukkan bahwa dua atau lebih meminum minuman dengan pemanis buatan dalam satu hari akan mempunyai resiko lebih cepat merusak fungsi ginjal.
Penelitian ini dilakukan setelah menghitung faktor resiko lainnya, seperti umur, tekanan darah, diabetes, merokok dan sakit jantung. Baru-baru ini, penemuan ini telah dipresentasikan dalam pertemuan tahunan Masyarakat Nephrology Amerika di San Diego – California
TEMPO Interaktif , London – Up Date 1 November 2009
Makanan manis yang dikombinasikan dengan warna-warna menarik sungguh membuat anak kecil tertarik. Apalagi kalau makanan itu empuk sehingga mudah dikunyah. Belum lagi kalau dibentuk sebagai minuman dingin yang dibekukan, seperti es krim atau serbuk es yang dituangi sirup.
Meski banyak digemari anak-anak, makanan manis yang banyak dijual di pasaran ini perlu diwaspadai. Pasalnya, banyak produk makanan, terutama produk industri rumah tangga, yang menggunakan pemanis buatan sebagai pengganti gula.
Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) RI Dedi Fardiaz mengungkapkan, di Indonesia masih banyak permasalahan terkait dengan penggunaan pemanis buatan. Meski sudah ada ketentuan batas maksimum yang diizinkan, penggunaan pemanis buatan masih sering dilakukan semena-mena melebihi batas maksimum yang diperbolehkan.
Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) RI Dedi Fardiaz mengungkapkan, di Indonesia masih banyak permasalahan terkait dengan penggunaan pemanis buatan. Meski sudah ada ketentuan batas maksimum yang diizinkan, penggunaan pemanis buatan masih sering dilakukan semena-mena melebihi batas maksimum yang diperbolehkan. Sakarin dan siklamat harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan pemanis lainnya, seperti aspartam, acesulfam, alitam, dan neotam.
Makanan Anak Indonesia Biang Kanker
Kapanlagi.com – Sebuah penelitian lembaga konsumen di Jakarta menemukan pelanggaran hukum produsen makanan anak-anak di Indonesia yaitu penggunaan pemanis buatan yang bisa berakibat fatal bagi kesehatan anak di antaranya kanker dan keterbelakangan mental.
“Survey yang kami lakukan Juni-Juli 2006 pada 49 makanan anak-anak membuktikan makanan itu mengandung pemanis buatan berbahan kimia. Penggunaan bahan pemanis buatan kimia ini mempunyai aturan dan ketentuan khusus yang dilanggar oleh para produsen makanan anak-anak itu,” kata Direktur Program Lembaga Konsumen Jakarta (LKJ) As’ad Nugroho, dalam konferensi pers LKJ di Jakarta, Rabu (09/08).
Makanan yang diteliti melalui metode survey dan uji laboratorium pada makanan anak itu terdiri dari produk makanan jenis jelly, minuman serbuk dan permen, mulai dari produk yang sudah maupun belum ternama.
“Makanan tersebut paling banyak dikonsumsi anak-anak karena rasa manisnya tinggi,” kata As’ad.
Hasil penelitian membuktikan ketiga jenis makanan yang digandrungi anak-anak itu mengandung aspartam, Sakarin dan Siklamat, bahan kimia yang dalam jangka panjang bisa mengakibatkan penyakit fatal bagi bocah.
Ketiga bahan kimia tersebut penggunaannya telah diatur dalam Permenkes No.208 1985 Pasal 10 dan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) No HK 00.05.5.1.4547 tahun 2004. Peraturan itu menentukan bahwa makanan yang mengandung pemanis buatan harus mencantumkan jenis dan jumlah pemanis buatan dalam komposisi bahan atau daftar tabel.
Tiga pemanis kimia itu juga merupakan pemanis buatan kimia non kalori yang penggunaannya sesuai ketentuan Permenkes No.208 1985 hanya diperuntukkan bagi penderita diabetes mellitus, dan orang yang sedang diet kalori akibat obesitas.
“Tapi pemanis buatan kimia di lapangan industri makanan cenderung digunakan produsen karena alasan efisiensi. Bayangkan saja, sakarin mempunyai tingkat kemanisan 200-700 kali kemanisan gula, siklamat tingkat kemanisannya 30-80 kali kemanisan gula dan aspartam 200 kali kemanisan gula,” kata As’ad.
Menurut Keputusan Kepala BPOM No HK 00.05.5.1.4547 Th 2004 pasal 2 butir 2 menyebutkan bahwa ‘pemanis buatan digunakan pada pangan rendah kalori dan pangan tanpa penambahan gula’.
Dari hasil penelitian LKJ pada 49 makanan anak-anak itu, semua makanan anak tersebut mengandung pemanis buatan (sakarin, aspartam dan siklamat) duapuluh di antaranya merupakan campuran antara pemanis alami dan pemanis buatan yang melanggar ketentuan dalam Keputusan BPOM.
Dua di antara produk minuman serbuk tidak mencamtumkan peringatan pada penderita fenilketonuria padahal dua minuman itu mengangung aspartam.
Penderita penyakit fenilketonuria tidak diperkenankan mengkonsumsi aspartam.
Menurut peneliti di LKJ, dr.Nurhasan, ketiga bahan kimia itu boleh dikonsumsi tubuh manusia yang berusia lebih dari 15 tahun atau sesuai ketentuan nilai ADI (Acceptable Daily Intake; jumlah pemanis buatan dalam mg/kg berat badan yang boleh dikonsumsi tiap hari sepanjang hidup).
Permasalahannya, ketentuan ADI dibuat untuk ukuran tubuh dalam taksiran berat tubuh orang dewasa atau mengambil rata-rata 45 kg, sedangkan tubuh anak-anak rata-rata di bawah 35 kg.
“Tubuh anak-anak belum dapat mentoleransi kandungan kimia dari pemanis buatan itu,” kata Nurhasan.
Dia mengatakan, Sakarin aspartam dan siklamat dapat mengakibatkan anak menjadi hiperaktif, keterbelakangan mental dan dalam jangka panjang beresiko kanker.
Sementara peneliti LKJ, Lies Purnama Sari mewakili LKJ mengatakan sudah saatnya pemerintah berlaku tegas dalam mengawasi dan menertibkan klaim atau pelabelan produk-produk pengan yang mengandung pemanis buatan, termasuk menegakkan peraturan-peraturan mengenai pemanis buatan dengan sungguh-sungguh.
Selain itu, LKJ juga meminta pemerintah membatasi penggunaan pemanis pada produk pangan anak-anak dan penggunaan pemanis buatan hanya dikhususkan bagi penderita diabetes dan diet obesitas.
Ia mengajak msyarakat untuk tidak mengkonsumsi makanan berpemanis buatan.
“Selama masih ada pemanis alami, penggunaan pemanis buatan sebisa mungkin dihindari masyarakat,” katanya. (*/rit)
{ 2 comments… read them below or add one }
Info yang sangat berguna. Saya tertarik untuk mendapatkan info lain seputar kesehatan.
semoga kami terus dapat memberikan informasi-informasi seputar kesehatan yg bermanfaat..
trimakasih atas kunjungannya….